Pizza Hut Tertekan di Persaingan Global, Yum Brands Pertimbangkan Penjualan Merek

Avatar photo

- Penulis Berita

Minggu, 8 Februari 2026 - 09:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pizza Hut di Pasadena, California, Amerika Serikat. Foto: Reuters

Pizza Hut di Pasadena, California, Amerika Serikat. Foto: Reuters

Persaingan ketat di industri makanan cepat saji global membuat performa bisnis Pizza Hut mengalami tekanan signifikan. Perusahaan induknya, Yum Brands, kini disebut tengah mengevaluasi opsi strategis, termasuk kemungkinan melepas kembali merek tersebut setelah kinerjanya dinilai tertinggal dibanding pesaing.

Sebagai langkah awal efisiensi, Yum Brands berencana menutup sekitar 250 gerai Pizza Hut di Amerika Serikat pada paruh pertama 2026. Penutupan ini difokuskan pada cabang yang dianggap kurang produktif guna merampingkan operasional dan meningkatkan efektivitas jaringan restoran.

Pizza Hut sendiri memiliki sejarah panjang sejak berdiri pada 1958 di Wichita, Kansas. Setelah diakuisisi PepsiCo pada 1977, bisnis restoran tersebut kemudian dipisahkan pada 1997 dan berkembang menjadi Yum Brands yang kini juga menaungi KFC, Taco Bell, serta Habit Burger & Grill.

Kontribusi Pizza Hut terhadap laba operasional Yum Brands terus menurun. Jika pada awal 2023 menyumbang sekitar 17 persen, pada 2025 angkanya turun menjadi sekitar 11 persen. Penurunan ini menjadi salah satu alasan CEO Yum Brands Chris Turner melakukan evaluasi menyeluruh terhadap masa depan merek tersebut.

Secara global, jumlah gerai Pizza Hut pada akhir 2025 tercatat sekitar 19.974 unit, berkurang lebih dari 250 toko dibanding tahun sebelumnya. Meskipun ekspansi tetap dilakukan dengan pembukaan hampir 1.200 gerai baru di puluhan negara, jumlah penutupan tetap lebih besar sehingga total jaringan menyusut.

Penjualan di toko yang sudah beroperasi juga menunjukkan penurunan. Pada kuartal keempat 2025, pendapatan global Pizza Hut turun sekitar 1 persen, sementara pasar Amerika Serikat mencatat penurunan hingga 3 persen, melampaui perkiraan analis. Kondisi ini berbeda dengan pesaing seperti Domino’s Pizza yang justru masih mencatat pertumbuhan penjualan.

Beberapa faktor dinilai menjadi penyebab melemahnya performa Pizza Hut. Salah satunya adalah lambatnya respons dalam persaingan harga ketika konsumen mulai menekan pengeluaran. Strategi promosi seperti diskon pizza dan menu baru dengan harga lebih terjangkau belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan penjualan.

Selain itu, model bisnis waralaba yang kompleks juga disebut membatasi kecepatan inovasi. Setiap perubahan strategi harga, renovasi gerai, atau inovasi produk harus melalui negosiasi dengan ribuan mitra franchise, sehingga adaptasi terhadap tren pasar sering berjalan lebih lambat dibanding kompetitor.

Sejumlah mitra waralaba bahkan menghadapi tekanan finansial. Beberapa unit usaha di Amerika Serikat dan Eropa dilaporkan mengalami penjualan atau restrukturisasi, sementara operator di India juga mencatat penurunan penjualan yang cukup tajam pada 2025.

Meski demikian, Yum Brands masih membuka peluang ekspansi global Pizza Hut pada 2026. Namun perusahaan belum memaparkan rencana detail, sementara opsi penjualan merek tetap dipertimbangkan sebagai strategi jangka panjang untuk fokus memperkuat bisnis lain seperti Taco Bell dan KFC.

Berita Terkait

FTSE Russell Tunda Review Indeks Indonesia 2026, Investor Diminta Cermati Dampaknya

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 09:54 WIB

FTSE Russell Tunda Review Indeks Indonesia 2026, Investor Diminta Cermati Dampaknya

Minggu, 8 Februari 2026 - 09:50 WIB

Pizza Hut Tertekan di Persaingan Global, Yum Brands Pertimbangkan Penjualan Merek

Berita Terbaru