Tradisi lomba dayung di Desa Klidang Lor, Kabupaten Batang, mendapatkan suntikan semangat baru setelah hadirnya empat unit perahu baru untuk mendukung perlombaan. Bantuan ini datang dari dua jalur sekaligus, yakni anggaran aspirasi DPRD dan dukungan Pemerintah Kabupaten Batang. Kehadiran perahu baru dinilai penting untuk menjaga kelangsungan tradisi lokal yang selama ini menjadi bagian khas perayaan Lebaran di wilayah tersebut.
Tokoh masyarakat Klidang Lor sekaligus anggota DPRD Batang, Nur Untung Slamet, menjelaskan bahwa pihaknya berkontribusi melalui bantuan dua unit perahu dari anggaran aspirasi. Di saat yang sama, Pemerintah Kabupaten Batang juga menyalurkan dua unit perahu lainnya pada tahun ini. Dengan demikian, total ada empat perahu baru yang kini dapat dipakai dalam lomba dayung tradisional di Sungai Eks Kali Sambong.
Dukungan terhadap fasilitas lomba bukanlah perkara sepele. Menurut Nur Untung Slamet, sebagian besar perahu yang sebelumnya digunakan sudah berusia cukup lama. Kondisi itu dikhawatirkan memengaruhi performa peserta sekaligus aspek keselamatan saat bertanding. Karena itu, pembaruan sarana dianggap sebagai kebutuhan yang mendesak agar perlombaan tetap berlangsung baik dan tidak kehilangan kualitasnya dari tahun ke tahun.
Nilai satu unit perahu dayung diperkirakan sekitar Rp60 juta, sehingga untuk dua unit mencapai sekitar Rp120 juta. Nur Untung menilai angka tersebut masih relatif efisien jika dibandingkan dengan daerah lain, misalnya Pekalongan, yang disebut memiliki harga per unit sedikit lebih tinggi. Informasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa dukungan anggaran untuk pelestarian tradisi budaya lokal juga perlu dihitung secara realistis, bukan sekadar berdasarkan semangat seremonial.
Lomba dayung di Klidang Lor bukan hanya ajang olahraga rakyat biasa. Bagi masyarakat setempat, kegiatan ini telah tumbuh menjadi bagian dari identitas budaya yang melekat dengan momentum Lebaran. Saat banyak daerah merayakan hari raya dengan panggung hiburan atau festival kuliner, Batang punya warna sendiri lewat perlombaan yang memadukan kekompakan, ketangkasan, dan kedekatan dengan sejarah perairan lokal. Tradisi seperti ini memang tidak datang dari brosur wisata, tapi dari kebiasaan yang diwariskan pelan-pelan.
Kehadiran perahu baru juga berarti memberi kesempatan yang lebih layak bagi para peserta untuk bertanding. Fasilitas yang baik dapat membantu menjaga keamanan, memperbaiki kualitas lomba, dan menumbuhkan antusiasme warga untuk terus ikut serta. Selain itu, pembaruan sarana membuat kegiatan budaya semacam ini tidak terlihat usang atau tertinggal, melainkan tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Dukungan pemerintah daerah dan legislatif dalam kasus ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk acara besar. Menyediakan sarana yang layak bagi tradisi yang sudah hidup di masyarakat juga merupakan bentuk perhatian yang konkret. Ketika fasilitas diperbarui, tradisi pun punya peluang lebih besar untuk bertahan dan menarik minat generasi yang lebih muda agar tidak sekadar menjadi penonton.
Pada akhirnya, empat perahu baru ini bukan hanya soal tambahan alat lomba. Di baliknya ada pesan bahwa budaya lokal masih dianggap penting dan layak diperjuangkan. Dengan sarana yang lebih aman dan memadai, tradisi lomba dayung di Klidang Lor diharapkan tetap lestari sebagai bagian dari wajah Lebaran masyarakat Batang. Sebab tradisi yang kuat biasanya tidak bertahan hanya karena dikenang, melainkan karena terus diberi ruang untuk dipakai, dirawat, dan dinikmati bersama. :contentReference[oaicite:2]{index=2}






