SEA Games 33 seharusnya menjadi ajang kebanggaan dan pembuktian prestasi bagi para atlet Asia Tenggara. Namun bagi dunia esports Thailand, turnamen tersebut justru meninggalkan noda besar yang sulit dilupakan.
Seorang pemain tim nasional esports Thailand, Naphat Warasin yang dikenal dengan nama panggung TokyoGurl, ditangkap bersama seorang pria bernama Chaiyo atas dugaan kecurangan dalam pertandingan SEA Games 33. Kasus ini langsung mengguncang publik dan mencoreng citra esports Thailand di kancah internasional.
Polisi Thailand melalui Biro Investigasi Pusat (CIB) mengonfirmasi bahwa keduanya terlibat dalam tindakan yang melanggar hukum terkait akses ilegal ke sistem kompetisi. Penyelidikan ini dilakukan dalam operasi bertajuk “Ghost Buster”.
Pada 4 Februari, aparat dari Departemen Penindasan Kriminal menggeledah tiga lokasi di wilayah Nonthaburi dan Nakhon Phanom atas perintah Mayor Jenderal Montri Thetsakhan. Hasil penyelidikan kemudian mengarah pada penangkapan dua tersangka tersebut.
Keduanya didakwa melanggar Undang-Undang Kejahatan Komputer Thailand dengan tuduhan mengakses sistem komputer secara tidak sah yang memiliki perlindungan keamanan khusus. Tindakan ini tidak hanya melanggar aturan kompetisi, tetapi juga termasuk tindak pidana.
CIB menegaskan bahwa akses ilegal terhadap server pertandingan bukan sekadar pelanggaran etika olahraga, melainkan bisa berujung hukuman penjara, denda besar, serta sanksi hukum jangka panjang.
Kasus ini bermula dari pertandingan semifinal cabang RoV (Arena of Valor) kategori tim wanita antara Thailand dan Vietnam pada 15 Desember 2025. Saat pertandingan berlangsung, wasit mencurigai gerak-gerik Naphat yang beberapa kali mengganti tampilan layar ponselnya.
Pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa ia diduga menggunakan aplikasi Discord untuk berkomunikasi dengan Chaiyo. Investigasi mengungkap adanya upaya memberikan akses login pertandingan kepada pihak lain agar dimainkan oleh orang berbeda, praktik yang dikenal sebagai “ghosting”.
Namun, rencana tersebut disebut gagal akibat kendala teknis. Naphat akhirnya kembali memainkan pertandingan sendiri, dan dari situlah dugaan kecurangan terdeteksi oleh ofisial pertandingan.
Konsekuensi dari insiden ini datang dengan cepat. Asosiasi E-Sports Thailand (TESF) mengumumkan penarikan tim nasional dari turnamen tersebut. Keputusan ini diambil untuk menjaga integritas kompetisi dan merespons pelanggaran serius yang terjadi.
Langkah tersebut berdampak besar pada reputasi esports Thailand. Citra tim nasional yang seharusnya menjadi kebanggaan justru tercoreng oleh kasus ini.
Kedua tersangka dilaporkan telah mengakui perbuatannya pada tahap awal penyelidikan. Berkas perkara kemudian diserahkan ke jaksa dan dibawa ke Pengadilan Distrik Pathumwan pada 6 Februari untuk proses hukum lebih lanjut.
CIB menyampaikan peringatan keras kepada seluruh atlet dan perwakilan tim nasional agar tidak mengorbankan reputasi negara demi keuntungan pribadi. Kejujuran dan integritas, menurut pihak berwenang, adalah fondasi utama dalam olahraga, termasuk esports.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di era kompetisi digital sekalipun, aturan tetap berlaku dan pelanggaran bisa berujung konsekuensi hukum serius. Dunia esports yang semakin profesional juga menuntut standar etika yang tinggi dari para pemainnya.






