Kepuasan pemilik mobil listrik ternyata tidak merata. Ada model yang dipuji karena pengalaman berkendara dan kemudahan pengisian daya, tetapi ada juga yang nilainya tertinggal jauh. Gambaran itu muncul dalam riset terbaru tentang pengalaman pemilik kendaraan listrik di Amerika Serikat.
Menurut JD Power 2026 U.S. Electric Vehicle Experience Research, tingkat kepuasan di segmen kendaraan listrik kelas atas naik tajam dibanding tahun sebelumnya. Skornya meningkat dari 756 menjadi 789 poin pada skala 1.000.
Segmen kendaraan listrik “populer” atau mass market juga bergerak naik, meski tidak setajam segmen premium. Dalam riset yang sama, kepuasan segmen ini tercatat 727 poin, sedikit lebih tinggi dibanding tahun lalu.
Riset tersebut mengaitkan peningkatan kepuasan dengan kemajuan teknologi baterai serta bertambahnya infrastruktur stasiun pengisian. Perbaikan bertahap ini membantu meredakan kekhawatiran konsumen yang sebelumnya sering muncul, seperti rasa cemas soal jarak tempuh dan akses charging.
Di kategori kendaraan listrik high-end, Tesla mempertahankan posisi kuat. Model 3 menempati peringkat teratas dengan 804 poin, disusul Model Y yang meraih 797 poin. Tepat di belakang keduanya ada BMW i4 dengan 795 poin.
Namun tidak semua model premium tampil meyakinkan. Audi Q6 e-tron yang baru diluncurkan berada di bagian bawah tabel dengan 690 poin. Posisinya bahkan berada di bawah Lucid Air (740) dan Rivian R1T (739), menunjukkan pengalaman pemiliknya belum sekompetitif para pesaing di kelas atas.
Untuk segmen mass market, Ford Mustang Mach-E menjadi pemimpin dengan 760 poin. Setelahnya menyusul Hyundai Ioniq 6 yang meraih 748 poin dan Kia EV9 yang mencatat 745 poin, memperlihatkan persaingan ketat di kelas kendaraan listrik yang lebih terjangkau.
Ada temuan menarik terkait dua model yang dikaitkan dengan platform General Motors. Chevrolet Blazer EV mencatat 711 poin, sementara Honda Prologue menjadi yang terendah di segmen ini dengan hanya 623 poin, menandakan adanya kesenjangan pengalaman yang cukup besar di dalam kelompok tersebut.
Riset ini juga menyoroti sinyal positif untuk masa depan pasar EV. Sebanyak 96% pemilik mobil listrik saat ini mengatakan mereka akan mempertimbangkan membeli atau menyewa mobil listrik lagi di masa mendatang, yang menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen mulai menguat.
Brent Gruber dari JD Power menilai bahwa peningkatan teknologi baterai, infrastruktur pengisian, dan performa kendaraan secara keseluruhan ikut mendorong kepuasan ke level tertinggi yang pernah dicatat. Dengan kata lain, pengalaman pemilik EV makin mendekati ekspektasi penggunaan harian.
Secara khusus, kepuasan terhadap sistem pengisian publik disebut melonjak lebih dari 100 poin. Salah satu faktor pendorong yang dicatat riset adalah Tesla membuka jaringan Supercharger untuk merek lain, sehingga akses charging menjadi lebih luas untuk lebih banyak pengguna.
Temuan lain yang tak kalah menarik: pengemudi mobil listrik murni (EV) cenderung lebih puas dibanding pemilik plug-in hybrid (PHEV). Selisih kepuasannya lebih dari 110 poin, terutama karena biaya kepemilikan EV lebih rendah dan pengguna tidak perlu memikirkan kompleksitas sistem gabungan mesin bensin dan listrik.






