Menjelang Ramadhan hingga puncak belanja jelang Idulfitri 2026, Pemerintah Kota Depok memilih bersikap lebih waspada. Isu kenaikan harga bahan pokok dianggap bukan sekadar rumor musiman, melainkan risiko nyata yang dapat menekan daya beli keluarga.
Pengawasan itu dijalankan lewat Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Depok. Intinya sederhana: memastikan harga di lapangan tidak melampaui batas kewajaran, sekaligus menutup ruang bagi praktik penimbunan yang kerap muncul saat permintaan naik.
Dalam kegiatan pemantauan, DKP3 tidak bergerak sendiri. Mereka melakukan monitoring bersama Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Sarwo Edhy, unsur Polda Metro Jaya, Polres Depok, serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin). Titik pantau mencakup pasar tradisional hingga ritel modern.
Kepala DKP3 Depok, Dadan Rustandi, menyebut fokus utama adalah kecocokan harga dengan aturan yang berlaku, terutama Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP). Dengan standar ini, pemerintah punya patokan jelas untuk menilai apakah kenaikan masih wajar atau sudah mengarah ke spekulasi.
Hasil pemantauan terbaru menunjukkan beberapa komoditas masih berada dalam rentang yang ditetapkan. Beras medium terpantau Rp13.500 per kilogram dan beras premium Rp14.900 per kilogram. Produk minyak goreng Minyakita juga masih berada di kisaran Rp15.700 per liter.
Namun, tidak semua komoditas bergerak stabil. Cabai rawit merah menjadi salah satu sorotan karena angkanya dilaporkan mencapai Rp120.000 per kilogram. Lonjakan pada komoditas cabai kerap terjadi karena pasokan sensitif terhadap cuaca, distribusi, serta perubahan permintaan yang cepat.
Dadan menjelaskan, mendekati Idulfitri biasanya terjadi dorongan permintaan yang membuat harga mudah bergerak. Karena itu, Pemkot Depok memperkuat pemantauan secara rutin—bahkan disebut telah dilakukan secara harian sejak 14 Januari—agar gejala kenaikan bisa dibaca sejak awal.
Upaya ini bukan hanya soal angka di papan harga. Pemkot juga menaruh perhatian pada kelancaran distribusi dan ketersediaan stok. Ketika stok aman dan arus barang lancar, ruang untuk permainan harga menjadi lebih sempit, sehingga masyarakat tidak terjebak pada harga yang “tiba-tiba” melonjak.
Dengan koordinasi lintas instansi dan inspeksi yang berkelanjutan, pemerintah kota berharap kebutuhan pangan warga menjelang Idulfitri tetap terpenuhi. Target besarnya adalah stabilitas: harga terjaga, distribusi tidak tersendat, serta daya beli masyarakat tetap terlindungi selama periode konsumsi tinggi.






