Banjir tidak hanya merusak rumah dan jalan, tetapi juga sering memukul sektor pendidikan. Ketika sekolah terendam lumpur, kegiatan belajar mengajar ikut tersendat, dan anak-anak kehilangan ruang aman untuk beraktivitas. Itulah situasi yang sempat terjadi di Tapanuli Tengah.
Pasca banjir susulan yang kembali menggenangi lingkungan sekolah, TNI Angkatan Darat bergerak cepat membantu pemulihan. Melalui Satgas Penanggulangan Bencana Alam (Gulbencal) jajaran Kodam I/Bukit Barisan, pembersihan ulang dilakukan di SDN 152983 yang berada di Kelurahan Hutanabolon I, Kecamatan Tukka, pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Operasi pembersihan ini tidak dikerjakan sendiri. Prajurit turun bersama personel Kodim 0211/Tapanuli Tengah dan pihak sekolah. Kolaborasi seperti ini penting karena pemulihan pasca bencana biasanya membutuhkan banyak tenaga dalam waktu singkat agar aktivitas warga bisa segera kembali berjalan.
Pekerjaan di lapangan difokuskan pada hal-hal yang paling mengganggu fungsi sekolah: lumpur yang menempel di ruang-ruang belajar, sisa material banjir yang menutup akses, serta kondisi halaman yang sulit dilalui. Dengan peralatan manual, tim mengangkat material, membersihkan lantai, dan merapikan area sekitar.
Langkah-langkah itu mungkin terlihat teknis, tetapi dampaknya langsung terasa. Ketika lumpur dibiarkan, sekolah menjadi tidak higienis dan berisiko bagi kesehatan. Selain itu, kerusakan kecil bisa menjalar menjadi kerusakan besar jika air kembali masuk dan tidak ada penanganan cepat.
Berkat respons yang sigap dan kerja terpadu, kondisi sekolah dilaporkan kembali bersih dan aman digunakan. Tujuan utamanya jelas: memastikan proses belajar mengajar bisa segera normal, sehingga anak-anak tidak tertinggal lebih jauh akibat gangguan bencana yang berulang.
Di wilayah yang rawan banjir, pemulihan sekolah sering menjadi prioritas karena sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga pusat aktivitas komunitas. Ketika sekolah pulih, ritme kehidupan warga ikut pulih—orang tua bisa kembali bekerja lebih tenang, dan anak-anak kembali punya rutinitas yang stabil.
Kehadiran TNI AD dalam situasi seperti ini memperlihatkan bentuk dukungan nyata bagi masyarakat. Selain penanganan darurat, pemulihan fasilitas publik—terutama pendidikan—menjadi bagian penting dari percepatan penanganan dampak bencana agar pemulihan tidak hanya berhenti pada tahap “air surut”.
Dengan sekolah yang kembali layak pakai, harapannya para siswa bisa kembali belajar dalam kondisi lebih nyaman. Sementara bagi warga sekitar, pembersihan ini menjadi penguat semangat gotong royong: bencana bisa datang kapan saja, tetapi pemulihan akan lebih cepat bila semua pihak bergerak bersama.






