Dinas Perhubungan Kabupaten Batang memilih pendekatan yang lebih humanis untuk mencegah anak-anak beraktivitas di sekitar rel kereta. Fenomena anak yang mencari konten visual di pinggir rel dinilai berbahaya dan menjadi perhatian serius, terutama menjelang Ramadan saat aktivitas ngabuburit meningkat.
Langkah pencegahan dilakukan tidak hanya dengan teguran, tetapi juga melalui edukasi langsung kepada anak dan keluarga. Petugas mendatangi perlintasan, meminta anak-anak menjauh dari rel, sekaligus mengingatkan orang tua agar ikut mengawasi aktivitas putra-putrinya.
Kasi Bina Keselamatan dan Perlintasan Sebidang Dishub Batang, Bambang Pitono, menjelaskan bahwa pendekatan persuasif kini lebih diutamakan. Menurutnya, petugas bahkan memberikan hadiah kecil kepada anak-anak dan ibu-ibu agar pesan keselamatan lebih mudah diingat.
Bambang menilai tindakan represif tidak selalu efektif di lapangan. Jika hanya dimarahi, anak-anak sering kali kembali lagi ke lokasi yang sama. Karena itu, metode edukasi yang lebih lunak namun tetap tegas dianggap lebih tepat untuk membangun kesadaran jangka panjang.
Salah satu risiko fatal yang disoroti adalah ketidaksadaran terhadap kereta ganda. Banyak anak terlalu fokus merekam satu kereta yang melintas, lalu tidak menyadari ada kereta lain datang dari arah berlawanan pada jalur berbeda atau jalur yang berdekatan.
Dishub menegaskan bahwa petugas penjaga perlintasan dan masinis sebenarnya sudah memberikan peringatan, termasuk sirene dan semboyan 35 (klakson). Namun, perhatian anak-anak kerap tertahan pada layar ponsel sehingga respons terhadap tanda bahaya menjadi terlambat.
Di Kabupaten Batang sendiri terdapat 15 perlintasan aktif yang menjadi titik pengawasan ketat. Beberapa jalur yang populer dan ramai aktivitas warga seperti Yos Sudarso, Gabus, hingga Ujungnegoro termasuk lokasi yang terus dipantau oleh petugas.
Dishub juga memberi perhatian pada perlintasan liar di Kuripan yang kini dijaga Linmas demi keamanan wisatawan menuju kawasan pantai. Pengawasan di titik-titik nonresmi ini dinilai penting karena sering dipakai warga, padahal fasilitas keselamatannya terbatas.
Menanggapi situasi tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Batang mengeluarkan edaran agar siswa tidak ngabuburit di lokasi berbahaya. Kepala dinas mengimbau anak-anak memilih tempat yang lebih aman seperti masjid atau taman daripada berada di dekat rel kereta.
Ke depan, Dinas Pendidikan berencana berkolaborasi dengan Dishub untuk masuk ke sekolah-sekolah di sekitar jalur rel. Meski begitu, peran keluarga tetap disebut sebagai benteng utama, karena pengawasan orang tua sangat menentukan agar anak tidak menjadikan rel sebagai arena bermain demi konten media sosial.






