Gangguan penciuman sering dianggap keluhan ringan, padahal fungsinya sangat penting bagi keselamatan tubuh. Dokter Spesialis THT-KL RSUD Padangan Bojonegoro, dr. Netiana, mengingatkan bahwa hidung berperan sebagai “alarm alami” yang membantu mendeteksi bahaya seperti kebocoran gas atau makanan basi.
Dalam talkshow edukasi kesehatan, dr. Netiana menjelaskan bahwa anosmia atau gangguan penciuman masih kerap disepelekan masyarakat. Padahal, ketika kemampuan mencium terganggu, seseorang bisa kehilangan sistem peringatan dini terhadap lingkungan sekitar.
Ia menyebut penyebab paling sering gangguan penciuman adalah infeksi saluran pernapasan atas. Selain itu, kelainan anatomi seperti sekat hidung bengkok, adanya sumbatan tumor, atau pembesaran jaringan akibat benturan juga dapat menghambat rangsang bau menuju saraf penciuman.
Pada beberapa kondisi, gangguan penciuman masih dapat membaik, terutama jika dipicu infeksi atau kelainan anatomi yang bisa ditangani. Namun, pada kasus cedera kepala berat yang merusak saraf, gangguan ini dapat bersifat permanen. Kondisi bawaan sejak lahir juga termasuk penyebab yang sulit dipulihkan.
Faktor usia lanjut secara alami ikut memengaruhi penurunan fungsi saraf penciuman. Di sisi lain, gaya hidup seperti merokok dalam jangka panjang dapat memperburuk kemampuan mencium, sehingga risiko gangguan penciuman menjadi lebih tinggi seiring waktu.
Infeksi virus, termasuk Covid-19, juga pernah menjadi penyebab meningkatnya kasus kehilangan penciuman. Karena itu, masyarakat diminta lebih waspada jika kemampuan mencium tidak kunjung pulih setelah flu atau pilek mereda.
Menurut dr. Netiana, gangguan penciuman juga berkaitan erat dengan gangguan pengecapan, sehingga dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Jika pilek sudah membaik tetapi penciuman belum kembali normal, pemeriksaan ke dokter disarankan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.
Pada anak-anak, gangguan penciuman yang terjadi hanya pada satu sisi hidung perlu dicurigai sebagai kemungkinan adanya benda asing. Sementara keluhan hidung berbau dapat dipicu infeksi sinus, masalah gigi, atau alergi yang menyebabkan penumpukan cairan di rongga hidung.
Untuk menjaga kesehatan hidung, masyarakat dianjurkan segera berobat saat mengalami infeksi, tidak terlalu sering mengorek hidung, dan melakukan cuci hidung sesuai kebutuhan medis. Lingkungan ber-AC yang terlalu dingin juga dapat membuat hidung kering, sehingga menjaga kelembapan saluran hidung menjadi langkah penting agar fungsi penciuman tetap optimal.






