Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menyatakan langkah cepat untuk memperkuat ekonomi desa melalui pembentukan Koperasi Desa Merah Putih/Kelurahan.
Pernyataan itu disampaikan Bupati Radityo Egi Pratama saat menjadi narasumber Rakernas APUDSI di Hotel Borobudur, Jakarta, pada 14 Februari 2026, di hadapan pelaku usaha desa dari berbagai daerah.
Egi menilai koperasi adalah alat yang membuat program desa lebih rapi karena perputaran modal, pencatatan, dan pengawasan bisa dilakukan secara terstruktur. Ia menekankan, dukungan daerah dibangun agar kebijakan nasional dapat berjalan sampai level desa.
Di forum bertema “Resilient Village: Ketahanan Dimulai dari Desa” itu, ia memaparkan progres pembentukan koperasi di wilayahnya. Lampung Selatan memiliki 256 desa dan 4 kelurahan yang menjadi basis program.
Menurut Egi, saat ini 148 unit koperasi berada dalam proses pembangunan. Sekitar 100 unit sudah berada di kisaran progres 75 persen, sementara unit lainnya disebut mendekati rampung, bahkan ada yang hampir 100 persen.
Adapun desa yang belum masuk tahap pembangunan, kata dia, masih fokus memenuhi persyaratan lahan. Ia ingin semua tahapan berjalan sesuai aturan agar koperasi memiliki fondasi yang jelas sejak awal.
Egi juga menyoroti manfaat koperasi bagi tata kelola dana desa. Dengan lembaga ekonomi yang resmi, pemanfaatan dana desa dinilai lebih terarah, lebih mudah dimonitor, dan lebih terukur, sehingga selaras antara pemerintah pusat, daerah, hingga pemerintahan desa.
Selain membahas koperasi, ia mempromosikan posisi strategis Lampung Selatan untuk pengembangan ekonomi berbasis desa. Wilayah seluas sekitar 2.200 kilometer persegi itu terdiri dari 17 kecamatan, dan didukung akses transportasi penting seperti Pelabuhan Bakauheni serta Bandara Radin Inten II.
Menurutnya, kemudahan investasi menjadi kunci agar koperasi dan ekonomi desa bergerak lebih cepat. Berbekal pengalaman di dunia usaha, Egi menyebut pemerintah daerah menyiapkan penyederhanaan perizinan, kepastian data, dan iklim investasi yang kondusif.
Di akhir pemaparan, ia mengajak pelaku usaha desa membangun kemitraan yang sehat dengan pemerintah daerah. Harapannya, Koperasi Merah Putih tidak berhenti sebagai program, tetapi benar-benar menjadi mesin ekonomi lokal yang berkelanjutan.






