Peringatan Nuzulul Quran di Sumedang tahun ini diisi dengan langkah konkret untuk mendukung pendidikan keagamaan. Pemerintah Kabupaten Sumedang menyalurkan insentif bagi tenaga pendidik Diniyah, mulai dari guru TPA, TPQ, hingga DTA.
Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Bupati Dony Ahmad Munir bersama Wakil Bupati M. Fajar Aldila dalam rangkaian Silaturahmi Alim Ulama Tahun 2026 di Aula Tampomas PPS, Selasa (10/3/2026).
Total anggaran yang disalurkan mencapai Rp9 miliar untuk 4.500 guru ngaji yang tersebar di berbagai wilayah. Setiap penerima memperoleh Rp2 juta untuk satu tahun, dan penyaluran dilakukan langsung ke rekening masing-masing penerima.
Bupati Dony menegaskan, insentif ini merupakan bentuk penghargaan kepada para pendidik yang berperan membina akhlak dan moral generasi muda. Ia mengakui nilai yang diberikan tidak sebanding dengan besarnya pengabdian, namun diharapkan menjadi tanda hormat sekaligus dukungan nyata.
Dony juga menyampaikan harapan agar nilai insentif dapat meningkat pada tahun-tahun mendatang. Ia menekankan komitmen terhadap para guru ngaji tidak boleh surut, meski daerah menghadapi efisiensi anggaran dan ada pengurangan transfer dari pemerintah pusat sekitar Rp4 miliar.
Menurutnya, pendidikan keagamaan adalah fondasi sosial yang membantu menjaga ketahanan moral masyarakat. Ketika rumah ibadah hidup, pengajaran Qur’an berjalan, dan anak-anak terbiasa dengan nilai adab, maka masyarakat memiliki “rem” alami terhadap berbagai perilaku destruktif.
Dalam kesempatan yang sama, Pemkab Sumedang juga memberikan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi 606 marbot masjid. Bupati menyampaikan apresiasi kepada para marbot yang menjaga kebersihan, kenyamanan, dan aktivitas masjid, sering kali datang paling awal untuk melayani jamaah.
Kegiatan ini memperlihatkan arah kebijakan yang menempatkan aktor-aktor sosial keagamaan sebagai mitra pembangunan: guru ngaji memperkuat pendidikan karakter, marbot menjaga ekosistem rumah ibadah, dan pemerintah menghadirkan dukungan yang lebih tertib melalui mekanisme anggaran serta perlindungan sosial.
Kalau ada profesi yang kerjanya sering sunyi tapi dampaknya berisik—dalam arti terasa—mungkin salah satunya guru ngaji. Mereka tidak selalu tampil di panggung, tapi sering membentuk panggung kehidupan anak-anak agar tidak mudah terseret arus.






