Hamparan kebun buah naga di kawasan sekitar Bendungan Jatigede, Sumedang, kembali menghadirkan cerita inspiratif pada Ramadan 2026. Di antara batang-batang tanaman yang tertata rapi, Bapak Odang memanen buah naga merah segar dari lahan miliknya. Bagi banyak orang, ini mungkin sekadar panen biasa. Namun bagi Odang, hasil itu adalah bukti bahwa ketekunan dan pendampingan yang tepat bisa mengubah jalan hidup.
Bapak Odang dikenal sebagai peternak sekaligus anggota Balai Ternak Jatimekar. Di balik aktivitas beternaknya, ia juga mengembangkan kebun buah naga di lahan sekitar DAM Bendungan Jatigede. Kombinasi dua usaha ini tidak hadir begitu saja, melainkan tumbuh dari semangat untuk mencari sumber pendapatan yang lebih stabil dan berkelanjutan bagi keluarganya.
Pada panen terbaru di bulan Ramadan, Odang berhasil mengumpulkan sekitar 28 kilogram buah naga segar. Hasil panen itu dijual dengan harga sekitar Rp25.000 per kilogram. Nilainya mungkin terlihat tidak terlalu besar di atas kertas, tetapi bagi seorang peternak yang membangun usaha secara bertahap, setiap kilogram panen membawa cerita kerja keras, kesabaran, dan optimisme yang nyata.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari penerapan sistem pertanian terintegrasi atau Integrated Farming System. Limbah ternak berupa kotoran hewan tidak dibuang percuma, melainkan diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman buah naga. Pendekatan ini membuat biaya produksi lebih efisien, menjaga kualitas tanah, dan mendukung hasil panen yang lebih alami.
Saat ini, Odang mengelola sekitar 100 pohon buah naga. Dari jumlah itu, sebanyak 28 pohon sudah memasuki masa produksi aktif, sementara sisanya masih tumbuh menuju fase berbuah. Kondisi ini memberi gambaran bahwa potensi hasil ke depan masih sangat besar. Jika seluruh pohon mulai produktif, maka kebun itu bisa menjadi sumber pendapatan tambahan yang jauh lebih kuat.
Model usaha yang dijalankan Odang merupakan bagian dari pendekatan pemberdayaan ekonomi yang didorong BAZNAS melalui Balai Ternak Jatimekar. Program ini tidak hanya mengajarkan peternakan, tetapi juga mendorong diversifikasi usaha berbasis pertanian terintegrasi. Tujuannya jelas, agar anggota kelompok tidak bertumpu pada satu sumber nafkah saja, melainkan membangun ekosistem usaha yang saling menopang.
Hasil panen buah naga ini menjadi pemasukan tambahan yang sangat berarti, terutama di bulan Ramadan ketika kebutuhan rumah tangga biasanya ikut meningkat. Dari kandang ternak ke kebun buah, Odang menunjukkan bahwa pemberdayaan bukan soal bantuan sekali datang lalu hilang, melainkan soal bagaimana orang dibantu untuk terus bisa berdiri. Bahasa sederhananya: zakat yang dikelola dengan benar tidak cuma lewat, tapi bisa berakar.
Kisah Bapak Odang memperlihatkan bahwa dukungan zakat yang dibarengi pendampingan mampu melahirkan kemandirian ekonomi. Kebun buah naga di Jatigede kini bukan hanya menghasilkan buah yang manis, tetapi juga menghadirkan harapan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dari lahan yang sederhana, tumbuh pesan besar bahwa pemberdayaan yang tepat bisa membuka masa depan yang lebih kuat dan berkelanjutan.






