Menjelang waktu berbuka puasa di Desa Bina’basa, Kecamatan Bajeng Barat, Kabupaten Gowa, suasana di sekitar outlet ZChicken milik Ibu Arfawati mulai ramai. Aroma ayam goreng yang menggoda menyambut warga yang datang silih berganti. Di balik meja pelayanan sederhana itu, Arfawati sibuk menerima pesanan sambil tetap melayani pembeli dengan wajah ramah. Ramadhan tahun ini menjadi salah satu periode penting bagi perkembangan usahanya.
Bagi Arfawati, bulan puasa bukan hanya momen untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga waktu yang menentukan bagi roda ekonomi keluarga. Usaha kecil yang ia jalankan kini menjadi sumber penghidupan yang terus diupayakan agar tumbuh lebih kuat. Karena itu, setiap perubahan pola belanja masyarakat selama Ramadhan direspons dengan penyesuaian strategi, termasuk mengatur ulang jam operasional outlet.
Jika pada hari biasa outlet buka lebih awal, selama Ramadhan Arfawati memilih berjualan mulai pukul 15.00 hingga 21.00 WITA. Penyesuaian ini dilakukan agar warga bisa membeli menu ayam goreng untuk berbuka maupun santap malam bersama keluarga. Pilihan jam tersebut ternyata cukup tepat. Menjelang magrib, pelanggan mulai berdatangan, dari yang membeli beberapa potong hingga yang memesan dalam jumlah lebih banyak.
Kondisi itu membuat outlet kecilnya nyaris tak pernah sepi pada sore hari. Ada pembeli yang datang untuk kebutuhan keluarga di rumah, ada pula yang memesan untuk acara buka bersama di lingkungan sekitar. Di desa, pola seperti ini sangat berarti. Satu pelanggan puas bisa memunculkan pelanggan baru. Bisa dibilang, promosi terbaik bukan spanduk besar, melainkan kabar baik yang berpindah dari mulut ke mulut.
Arfawati merupakan salah satu mustahik penerima manfaat program ZChicken, yaitu program pemberdayaan ekonomi yang ditujukan untuk membantu masyarakat membangun kemandirian melalui usaha kuliner. Sejak memperoleh kesempatan tersebut, ia bertekad menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Baginya, usaha ini bukan sekadar tempat berjualan ayam goreng, melainkan jalan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga secara bertahap.
Ketekunan itu mulai menunjukkan hasil yang nyata. Dalam sehari, Arfawati mampu menjual sekitar 50 hingga 70 potong ayam. Untuk ukuran usaha kuliner skala kecil di lingkungan desa, capaian itu tergolong baik. Kepercayaan masyarakat pun terus meningkat karena ia berusaha menjaga rasa, kebersihan, dan pelayanan. Tiga hal ini tampak sederhana, tetapi justru sering menjadi penentu apakah pembeli akan kembali atau malah pindah ke tempat lain.
Monitoring dari pendamping program juga menjadi bagian penting dalam proses perkembangan usaha tersebut. Kunjungan yang dilakukan tidak hanya bertujuan memantau angka penjualan, tetapi juga memberi motivasi dan dukungan agar Arfawati tetap konsisten. Menurut pendamping, kisah Arfawati menjadi contoh bahwa program pemberdayaan bisa memberi dampak positif ketika penerima manfaat menjalankannya dengan komitmen yang tinggi.
Semangat Arfawati perlahan menginspirasi warga di sekitarnya, terutama sesama penerima manfaat. Ia memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan dibangun dari rutinitas, kesabaran, dan kemauan untuk terus bertahan. Di tengah suasana Ramadhan yang penuh berkah, outlet sederhana di Desa Bina’basa itu menjadi simbol harapan: bahwa usaha kecil yang ditekuni dengan sungguh-sungguh dapat membuka jalan menuju kemandirian ekonomi yang lebih baik.






