Banjir berlumpur yang menerjang kawasan Pulau Tondan, Perumahan Taman Permata Buana, Kelurahan Kembangan Utara, Jakarta Barat, diduga kuat dipicu luapan Kali Angke. Dugaan itu muncul setelah tinggi muka air (TMA) sungai mencapai sekitar 400 sentimeter, angka yang disebut sangat ekstrem untuk wilayah Jakarta Barat.
Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat, Purwanti Suryandari, menjelaskan bahwa kenaikan muka air pada Minggu (8/3/2026) menjadi yang tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Saat air setinggi itu, limpasan tidak lagi tertahan dan akhirnya masuk ke kawasan permukiman yang berada dekat aliran sungai.
“Kemarin, Minggu (8/3), Kali Angke itu sangat tinggi. Muka airnya sampai 400 sentimeter dari titik nol pengukur. Itu yang paling tinggi, sehingga air meluap,” ujar Purwanti saat dikonfirmasi, Selasa (10/3/2026).
Luapan tersebut menggenangi area perumahan dan meninggalkan endapan lumpur. Warga dan petugas terlihat melakukan pembersihan di badan jalan, sementara mobil tangki air dikerahkan untuk menyemprot sisa lumpur yang menempel di permukaan aspal dan tepi jalan.
Purwanti menambahkan, kondisi banjir berlumpur juga dipengaruhi adanya proyek pembangunan turap atau tanggul (sheetpile) di sepanjang Kali Angke pada segmen wilayah tersebut. Pekerjaan konstruksi di bantaran sungai berpotensi membuat material tanah ikut terbawa saat debit meningkat, sehingga air yang masuk ke permukiman membawa lumpur lebih pekat.
“Saat ini sedang proses pembangunan sheetpile atau turap supaya Kali Angke bisa lebih tertanggul,” jelasnya. Ia menyebut proyek turap ini bersifat multi years, berjalan sejak 2025 dan direncanakan berlanjut hingga 2027.
Turap yang dibangun disebut sepanjang lebih dari satu kilometer. Harapannya, struktur tersebut dapat memperkuat perlindungan bantaran dan mengurangi risiko banjir di permukiman sekitar yang selama ini rawan terdampak luapan.
Dalam penanganan banjir, petugas tidak bisa langsung mengandalkan pompa ketika air sungai sudah melewati bibir tanggul. Menurut Purwanti, operasi pompa efektif dilakukan setelah muka air sungai mulai turun, karena jika sungai masih tinggi, air tetap akan “melawan arus” dan upaya penyedotan menjadi tidak optimal.
Data sementara mencatat genangan merendam dua RW di Taman Permata Buana, yaitu RW 09 dan RW 11, dengan ketinggian air sekitar 50–60 sentimeter. Selain di jalan, endapan lumpur juga terlihat menumpuk di tepi kali pada bagian luar barisan turap yang baru dipasang.
Peristiwa ini kembali menegaskan satu pelajaran klasik Jakarta: ketika sungai naik drastis, rumah yang dekat bantaran sering jadi yang pertama “diwawancarai” air. Bedanya, kali ini air datang membawa lumpur—dan membersihkannya jauh lebih melelahkan daripada sekadar menunggu surut.






