Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar panen padi varietas Gamagora 7 di Desa Bayamgede, Kecamatan Kepohbaru, Sabtu, 28 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis memperkuat kemandirian pangan daerah melalui inovasi pertanian yang adaptif.
Panen tersebut mengusung tema menuju swasembada pangan berkelanjutan dan merupakan kolaborasi antara Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro dengan UGM. Kerja sama ini diarahkan untuk menjaga bahkan meningkatkan produktivitas pertanian di tengah tantangan perubahan iklim.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menegaskan bahwa sektor pertanian menjadi prioritas pembangunan daerah. Menurutnya, mayoritas masyarakat Bojonegoro bergantung pada pertanian, sehingga peningkatan produktivitas menjadi agenda penting selain sektor kesehatan.
Ia menyoroti penguatan manajemen air sebagai kunci keberlanjutan produksi. Karena itu, Pemkab Bojonegoro berkomitmen melanjutkan pembangunan embung, normalisasi sungai, dan perbaikan bendung, sekaligus memperkuat pengawasan tata kelola distribusi air untuk lahan pertanian.
Bupati juga menekankan pentingnya keberlanjutan kerja sama pengembangan benih unggul bersama UGM. Target yang ingin dicapai bukan hanya menjaga hasil panen tetap stabil, melainkan mendorong Bojonegoro menjadi salah satu daerah dengan produktivitas padi tertinggi di Indonesia.
Kepala DKPP Bojonegoro, Zaenal Fanani, menyampaikan bahwa produksi padi Bojonegoro pada 2025 mencapai 886.443 ton, naik 24,7 persen dibanding capaian sebelumnya sebesar 710.502 ton. Peningkatan ini dipengaruhi kondisi iklim yang lebih mendukung serta bertambahnya luas tanam.
Untuk mengamankan produksi, Pemkab Bojonegoro pada 2025 melakukan pembangunan dan perbaikan infrastruktur pengairan secara masif, termasuk irigasi, normalisasi embung, dan pembangunan pompa air. Upaya tersebut dinilai efektif menekan dampak curah hujan tinggi sehingga lahan pertanian tetap terjaga.
Selain infrastruktur, intensitas pendampingan kepada petani juga ditingkatkan melalui kunjungan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan penguatan pengamatan hama penyakit. Hasilnya, sepanjang 2025 tidak terjadi serangan hama dan penyakit signifikan, berbeda dengan sejumlah daerah lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Memasuki 2026, Bojonegoro menghadapi tantangan potensi kemarau kering yang dapat menurunkan luas tambah tanam dan produksi. Sebagai antisipasi, kerja sama dengan UGM dilanjutkan melalui demplot padi Gamagora di lima kecamatan. Hasil uji menunjukkan produktivitas yang menjanjikan, termasuk capaian tinggi di Desa Bayamgede yang melampaui rata-rata nasional, sehingga panen Gamagora 7 ini dipandang sebagai tonggak optimisme baru menuju lumbung pangan berkelanjutan.






