Ivanka Trump membagikan daftar buku yang ia baca sepanjang 2025 dan sejumlah judul yang, menurutnya, ikut memengaruhi cara ia memandang hidup. Dalam unggahannya, ia menyebut setiap buku memberi dampak yang berbeda: ada yang terasa ringan, ada yang membuatnya berpikir lebih dalam, dan beberapa ia baca ulang untuk memahami isi sekaligus menemukan “keseimbangan” dari pesan yang dibawa.
Dari 17 judul yang dibagikan, salah satu yang ia soroti adalah novel sejarah The Women karya Kristin Hannah. Ivanka menggambarkannya sebagai kisah tentang keberanian, daya tahan, dan persaudaraan dalam latar perang, sekaligus pengingat bahwa banyak tindakan berani justru terjadi ketika sorotan tidak mengarah ke pelakunya. Ia juga menyinggung kebiasaannya kembali membaca karya klasik, terutama buku-buku yang sedang dipelajari anak-anaknya di sekolah. Tahun ini, ia mengatakan membaca ulang Odyssey karya Homer bersama putrinya, Arabella, dan menilai kisah tersebut bukan hanya soal petualangan panjang, tetapi juga ketekunan untuk terus bergerak maju.
Selain fiksi dan klasik, Ivanka memasukkan buku yang bernuansa reflektif dan pengembangan diri. Ia menuliskan The Creative Act dari Rick Rubin, yang ia pandang sebagai renungan tentang cara memandang dunia seolah semuanya bisa dilihat sebagai proses kreatif yang berjalan. Ada pula karya psikolog Edith Eger, yang ia sebut membawa pesan tentang kemampuan memilih kebebasan batin bahkan ketika berada dalam kondisi yang gelap. Judul lain yang ia angkat antara lain The Art of Learning karya Josh Waitzkin, yang menurutnya memperlihatkan keindahan latihan yang dilakukan dengan sengaja dan disiplin.
Ia juga menyinggung bacaan yang sering dikaitkan dengan filosofi hidup dan kebijaksanaan praktis, seperti The Almanack of Naval Ravikant (Eric Jorgenson). Lalu ada The Lessons of History dari Will dan Ariel Durant, yang ia nilai dapat “meringkas” pelajaran panjang peradaban manusia—mulai dari kekuasaan, budaya, perang, agama, hingga ekonomi—ke dalam pola yang berulang. Dalam daftar tersebut, Ivanka turut menyebut The Power of Myth (Joseph Campbell) dan A History of Western Philosophy (Bertrand Russell), yang ia anggap sebagai perjalanan gagasan yang membentuk cara berpikir Barat.
Menjelang Amerika Serikat memasuki momen peringatan 250 tahun, ia juga mengangkat The Pursuit of Happiness (Jeffrey Rosen) yang, menurutnya, mengingatkan bahwa “kebahagiaan” oleh para pendiri negara dipahami sebagai sesuatu yang melekat pada kebajikan dan disiplin. Sebagai penutup, ia mengungkap ada beberapa bacaan yang selalu dekat di meja samping tempat tidur, termasuk Meditations (Marcus Aurelius), Stillness Speaks (Eckhart Tolle), antologi puisi, dan kumpulan karya Rumi versi Coleman Barks.






