Setelah sempat mengalami rebound, harga emas dunia kembali melemah signifikan dan bahkan sempat turun di bawah level 4.700 dolar AS per ons. Pergerakan ini mencerminkan tekanan pasar yang masih kuat terhadap logam mulia dalam beberapa hari terakhir.
Pada penutupan perdagangan 5 Februari, harga emas spot dunia turun sekitar 187 dolar AS menjadi 4.776 dolar AS per ons. Pelemahan berlanjut hingga pagi 6 Februari, ketika harga sempat menyentuh sekitar 4.654 dolar AS per ons sebelum kembali bergerak fluktuatif.
Tidak hanya emas, harga perak juga mengalami penurunan serupa. Dalam sesi perdagangan 5 Februari, perak tercatat merosot hingga 12,1 persen dan saat ini berada di kisaran 63 dolar AS per ons.
Analis pasar menilai pelemahan emas dan perak dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat serta aksi jual besar-besaran di berbagai pasar global. Nilai dolar AS mencapai posisi tertinggi dalam dua minggu terakhir. Di saat yang sama, indeks S&P 500 di bursa saham AS turun ke level terendah dua minggu, sementara Nasdaq menyentuh titik terendah sejak awal Desember 2025. Pasar kripto juga melemah, dengan Bitcoin kembali turun di bawah level 70.000 dolar AS per koin.
Bob Haberkorn, ahli strategi di RJO Futures, menyebut sebagian pelaku pasar menghadapi tekanan margin sehingga terpaksa menjual logam mulia untuk menutup kerugian di pasar saham. Namun, menurutnya secara fundamental belum ada perubahan besar yang memengaruhi pasar emas.
Dalam sepekan terakhir, pasar logam mulia memang menunjukkan volatilitas tinggi. Emas dan perak bahkan mencatat penurunan harian terbesar dalam beberapa dekade setelah sebelumnya mencapai puncak harga.
Analis City Index, Fawad Razaqzada, menilai volatilitas masih akan berlangsung. Ia menyebut pasar biasanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri setelah pergerakan ekstrem sehingga tekanan harga berpotensi mereda secara bertahap.
Faktor geopolitik juga menjadi perhatian pasar. Rusia dan Ukraina dilaporkan mencapai kesepakatan pertukaran tahanan skala besar setelah pembicaraan yang dimediasi media Amerika Serikat. Selain itu, Presiden AS Donald Trump dikabarkan melakukan pembicaraan aktif dengan Presiden China Xi Jinping. Pasar juga mencermati rencana dialog antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Oman.
Dalam laporan terbarunya, JPMorgan menilai harga emas dan perak memiliki keterkaitan erat. Saat ini harga perak dinilai relatif tinggi sehingga berpotensi mengalami koreksi lanjutan. Bank tersebut menaikkan batas bawah jangka pendek harga perak ke kisaran 75–80 dolar AS dan memproyeksikan potensi pemulihan hingga sekitar 90 dolar AS tahun depan.
Fluktuasi harga perak juga mendorong sejumlah pelaku industri melakukan penyesuaian. Perusahaan perhiasan Pandora, misalnya, berencana beralih ke produk berlapis platinum sebagai respons terhadap volatilitas harga logam tersebut.
Sementara itu, harga platinum di pasar spot global tercatat turun sekitar 7,5 persen menjadi 2.057 dolar AS per ons. Adapun paladium saat ini berada di kisaran 1.680 dolar AS per ons, menunjukkan tren pelemahan serupa di pasar logam mulia.






