Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat memperketat pengawasan arus mudik Idulfitri 1447 H, khususnya terkait keberadaan terminal bayangan. Langkah ini dilakukan untuk melindungi calon pemudik dari praktik ilegal yang berisiko merugikan, baik dari sisi keselamatan maupun biaya.
Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainah mengimbau warga agar memilih terminal resmi saat berangkat mudik. Menurutnya, terminal bayangan kerap menawarkan kemudahan yang terlihat cepat dan praktis, tetapi menyimpan risiko besar karena tidak semua prosedur pemeriksaan armada dijalankan.
Ia menekankan bahwa terminal resmi bukan hanya soal “taat aturan”, melainkan jaminan keselamatan. Di terminal resmi, kelaikan bus diperiksa lebih ketat dan tarif tiket cenderung lebih transparan. Hal ini membantu mencegah pemudik menjadi korban permainan harga oleh oknum.
Pengawasan yang diperketat ini juga sejalan dengan instruksi pemerintah provinsi yang meminta jajaran wilayah menjaga kondusivitas selama musim mudik. Fokusnya bukan hanya arus orang, tetapi juga keamanan lingkungan saat banyak rumah ditinggalkan pemiliknya.
Dalam surat edaran yang mewajibkan jajaran wilayah bergerak, sejumlah poin pengamanan ditekankan. Salah satunya pengaktifan siskamling untuk mengantisipasi gangguan ketertiban di lingkungan, terutama di kawasan permukiman padat.
Warga juga diingatkan agar mengecek keamanan rumah sebelum berangkat: pintu terkunci, listrik aman, dan kompor gas dilepas. Pada saat yang sama, kantor wilayah diminta menyiapkan fasilitas penitipan kendaraan bagi warga yang ingin meninggalkan kendaraan dengan kondisi lebih aman.
Ada pula ketentuan wajib lapor untuk pendatang baru atau tamu pasca-Lebaran dalam waktu 1×24 jam kepada pengurus RT/RW. Ketentuan ini ditujukan untuk memperkuat pendataan dan meminimalkan potensi gangguan keamanan di lingkungan.
Untuk mendukung semua langkah tersebut, Pemkot Jakarta Barat menyiagakan posko piket di tingkat kelurahan dan kecamatan. Posko ini dirancang sebagai simpul respons cepat jika terjadi keadaan darurat atau gangguan keamanan selama periode libur panjang.
Iin berharap masyarakat mau bekerja sama dan tidak tergoda berangkat dari titik-titik tidak resmi hanya karena terlihat lebih dekat atau lebih cepat. Baginya, mudik yang baik bukan yang “paling gesit”, tapi yang paling aman—karena pulang kampung itu tujuannya ketemu keluarga, bukan ketemu masalah di jalan.






