Sejumlah penerbit buku terkemuka dunia seperti Penguin Random House, Macmillan, Sourcebooks, dan Wiley dilaporkan mulai membuka banyak lowongan untuk insinyur kecerdasan buatan (AI), sebagaimana dikutip dari Forbes. Langkah ini menunjukkan semakin seriusnya industri penerbitan dalam memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung operasional bisnis mereka.
Informasi perekrutan tersebut menegaskan bahwa teknologi AI diarahkan terutama untuk kebutuhan bisnis, misalnya membangun model prediksi penjualan buku serta menentukan strategi harga yang lebih efektif. Hingga saat ini, penerbit umumnya masih belum berniat menggunakan AI untuk penyuntingan maupun pembuatan konten buku, menandakan sikap hati-hati terhadap pemanfaatan teknologi tersebut.
Kondisi ini mencerminkan posisi industri penerbitan yang cukup kompleks. Pakar industri Jane Friedman menyebut penerbit berada dalam situasi canggung karena mereka sadar teknologi AI tidak akan hilang. Di sisi lain, pemegang saham menuntut kejelasan bagaimana teknologi tersebut bisa meningkatkan efisiensi sekaligus menghasilkan keuntungan.
Sebagai contoh, Macmillan diketahui merekrut dua manajer solusi AI untuk mengevaluasi potensi teknologi ini dalam produk penerbitan serta merancang sistem yang mampu menjawab berbagai tantangan bisnis. Peran tersebut meliputi pengembangan versi uji AI, perancangan alur kerja baru, hingga pelatihan karyawan agar dapat mengintegrasikan alat AI dalam aktivitas sehari-hari. Perusahaan juga secara terbuka menggunakan AI untuk tugas administratif seperti pencarian buku, peringkasan dokumen, terjemahan, serta moderasi konten.
Langkah serupa dilakukan Penguin Random House, penerbit buku komersial terbesar di dunia. Perusahaan ini merekrut insinyur solusi AI senior untuk mengembangkan sistem pemasaran dan pencarian buku yang lebih canggih. Selain itu, AI juga digunakan untuk meningkatkan efisiensi operasional, termasuk manajemen gudang dan penentuan jumlah cetakan buku secara lebih akurat, menurut juru bicara Claire von Schilling.
Meski demikian, banyak penerbit tetap berhati-hati dalam menyampaikan sikap mereka terhadap AI. Hal ini tidak lepas dari penolakan yang cukup luas dari kalangan penulis. Sejumlah penulis ternama bahkan mengkritik keras penggunaan AI dalam dunia kreatif.
Margaret Atwood, misalnya, pernah menyatakan kepada Reuters pada 2024 bahwa AI adalah “penyair yang buruk” dan hanya berfungsi sebagai “pengumpul data”. Novelis Zadie Smith juga menilai tulisan AI terasa kosong karena tidak memiliki empati manusia. Sementara itu, George R. R. Martin, yang menjadi salah satu dari 17 penggugat dalam gugatan Asosiasi Penulis Amerika Serikat terhadap OpenAI pada 2023, menyebut AI sebagai bentuk plagiarisme paling mahal sekaligus boros energi.
Karena itu, Schilling menegaskan bahwa tanggung jawab utama penerbit adalah melayani penulis. Pihaknya berkomitmen melindungi hak kekayaan intelektual dan hak cipta para penulis di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin pesat.
Dari sisi hukum, perusahaan AI sendiri telah memperoleh sejumlah kemenangan penting. Dalam putusan kasus melawan Anthropic pada Juni 2025, Hakim Distrik William Alsup menyatakan bahwa penggunaan karya berhak cipta untuk pengembangan AI dapat dianggap sesuai dengan prinsip penggunaan wajar. Dalam perkara serupa terhadap Meta dan Stability AI, pengadilan juga sebagian besar berpihak kepada perusahaan teknologi AI.
Sebagian penerbit memilih menempuh jalur kerja sama lisensi daripada sengketa hukum. Wiley, misalnya, memperoleh sekitar 40 juta dolar AS pada tahun fiskal 2025 dari perjanjian lisensi multi-juta dolar dengan perusahaan AI, termasuk penjualan buku bekas dan buku akademik kepada perusahaan seperti Anthropic.
Namun, bagi penerbit yang lebih kecil, keputusan melisensikan seluruh katalog buku kepada perusahaan teknologi tidak selalu mudah. Konsultan teknologi penerbitan Thad McIlroy menilai masih ada kekhawatiran bahwa lisensi semacam itu dapat membuat penerbit kehilangan kendali atas aset intelektual mereka.
Di sisi lain, ketertarikan terhadap AI tetap tinggi karena teknologi ini mampu membantu mengklasifikasikan, menganalisis, serta membuat ulasan cepat terhadap banyak manuskrip yang diterima penerbit. Menurut McIlroy, pelaku industri memahami bahwa AI dapat meningkatkan efisiensi kerja, memungkinkan lebih banyak pekerjaan dilakukan dengan sumber daya lebih sedikit, sekaligus membantu meningkatkan penjualan buku. Tantangannya kini adalah menentukan seberapa cepat integrasi AI perlu dilakukan sebelum teknologi tersebut menjadi standar umum di industri penerbitan.






