Antrean warga di Meruya Selatan, Kembangan, Sabtu (7/3/2026) pagi, bergerak cepat dan rapi. Alasannya sederhana: ada pasar sembako murah yang potongan harganya bikin dompet ikut tersenyum.
Kegiatan bertajuk Spektakuler Agape 2 digelar oleh Yayasan Graha Insan Penerobos di Taman Kebon Jeruk Blok AA II, Meruya Selatan. Acara sosial ini menyediakan 1.000 paket sembako murah yang langsung diserbu warga dari beberapa RW setempat.
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, hadir bersama sejumlah pihak, termasuk Camat Kembangan Joko Suparno, Lurah Meruya Selatan Muhammad Maizar, Ketua FKUB Jakbar H. Saumun Hasan, Dai Polda KH Tatang Firdaus, serta pembina yayasan Lewi Katiandagho. Kehadiran para tokoh tersebut memperkuat pesan bahwa kegiatan sosial adalah kerja kolaboratif, bukan kerja sendirian.
Dalam sambutannya, Iin Mutmainnah menyampaikan apresiasi kepada yayasan dan pihak penginisiasi kegiatan. Ia menilai acara ini bukan sekadar transaksi paket murah, tetapi juga ruang mempererat hubungan antarwarga sebagai satu keluarga besar Jakarta Barat.
Iin menyoroti antusiasme warga dari RW 01, RW 04, dan RW 07. Menurutnya, banyak wajah terlihat sumringah karena program ini memberikan keringanan nyata. Paket sembako yang normalnya dibanderol Rp150 ribu, dijual Rp75 ribu—potongan sekitar 50 persen yang terasa signifikan di situasi ekonomi sekarang.
Ketua panitia, Kristovorus Supardi, menjelaskan Spektakuler Agape 2 merupakan wujud berbagi kasih melalui dua layanan utama: penjualan paket sembako murah dan pengobatan gratis. Ia menekankan bahwa target kegiatan adalah membantu warga sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan.
Isi paket sembako juga dibuat relevan dengan kebutuhan rumah tangga. Setiap paket berisi sembilan jenis barang, seperti beras, minyak goreng, gula, kopi, teh, hingga kornet sapi. Komposisi tersebut dipilih agar warga mendapatkan manfaat praktis, bukan sekadar “oleh-oleh acara”.
Selain paket sembako, acara ini juga menghadirkan pasar murah barang lain. Ada penjualan sepatu perempuan dan pakaian (baju-celana) dengan harga sangat terjangkau, yakni Rp10.000. Kombinasi sembako dan barang kebutuhan harian membuat acara terasa seperti “one stop belanja hemat”.
Penyelenggara berharap kegiatan serupa bisa berkelanjutan dan menjadi contoh bagi banyak pihak. Pemerintah kota pun mendorong agar kegiatan sosial tidak berhenti pada satu momen, melainkan menjadi kebiasaan yang memperkuat daya tahan sosial warga.
Di akhir kegiatan, pesan yang ditinggalkan cukup jelas: solidaritas tidak harus menunggu bencana. Kadang, ia hadir dalam bentuk paling sederhana—sembako murah, layanan kesehatan, dan tetangga yang pulang dengan rasa ringan.






