Standard Chartered kembali merevisi pandangan terhadap pasar aset digital. Dalam penyesuaian terbaru, bank tersebut memperingatkan harga Bitcoin berpotensi turun hingga kisaran USD 50.000 sebelum berupaya pulih.
Revisi ini disebut sebagai pemangkasan proyeksi untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari tiga bulan. Target harga akhir 2026 yang disampaikan kini berada di USD 100.000, turun dari proyeksi sebelumnya USD 150.000.
Sebelumnya, pada Desember, Standard Chartered juga menurunkan target yang lebih tinggi lagi. Artinya, bank melihat kondisi pasar belum stabil dan investor masih berhadapan dengan risiko yang tidak kecil di beberapa bulan ke depan.
Geoffrey Kendrick, Direktur Global Riset Aset Digital Standard Chartered, menilai volatilitas belum selesai. Dalam laporannya, ia memperkirakan harga masih dapat mengalami penurunan lanjutan dalam periode mendatang.
Salah satu tekanan yang disorot adalah arus dana yang melemah dari produk ETF Bitcoin. Kepemilikan di ETF Bitcoin disebut turun hampir 100.000 unit dibandingkan puncaknya pada 10 Oktober 2025, mencerminkan berkurangnya minat atau meningkatnya aksi ambil untung.
Laporan itu juga menyinggung “harga jangkar” sekitar USD 90.000 yang menjadi rata-rata posisi pembeli saat ini, sehingga banyak investor berada dalam posisi rugi. Kondisi seperti ini kerap menekan sentimen dan membuat arus modal baru lebih berhati-hati.
Di sisi makro, bank menilai lanskap semakin menantang. Ada kekhawatiran ekonomi Amerika Serikat melemah, sementara pasar dinilai belum mengantisipasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Situasi tersebut dapat membatasi aliran dana ke aset berisiko, termasuk kripto.
Sejak aksi jual besar pada 10 Oktober 2025, investor disebut menarik hampir USD 8 miliar dari ETF Bitcoin berbasis di AS. Ini mempertegas bahwa tekanan bukan hanya dari pergerakan harga, tetapi juga dari perubahan alokasi portofolio.
Standard Chartered juga menurunkan target Ether pada akhir 2026 menjadi USD 4.000 dari USD 7.500. Kendrick memperkirakan Ether sempat bisa turun hingga sekitar USD 1.400 sebelum rebound menjelang akhir tahun.
Dalam periode gejolak itu, Bitcoin dikatakan kehilangan lebih dari 40% dari puncak mendekati USD 127.000 pada Oktober, sementara kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan menyusut hampir USD 2 triliun menurut data CoinGecko. Meski turun tajam, bank menilai pelemahan kali ini cenderung lebih “teratur” dibanding keruntuhan sebelumnya, karena belum diikuti tumbangnya platform besar aset digital.






